aku rindu tatapan mata ini
tertetes air mata ini, kenapa aku rindu padamu ! kau bagaikan burung yang terbang bebas melayang [kini], diperhentian ini, ku ingat betapa sayu matamu, keriput jelas dahi dan lesung pipimoe. sudah lama dan tak ingat lagi betapa manis senyum mu.
aku hanya bisa menangis di perbaringan, ketika bayi tua itu hanya bisa merengek. seakan tak ada daya, entah mengapa aku tak begitu tega. sungguh, hanya terhalang dinding – aku dengar jelas engkau meronta atas perlakuan waktu itu. dan hanya batin ini menangis – mendengar sayu dirimoe.
cukup sudah derita kini, relakanlah engkau pergi dariku. hanya sedikit do’a dan tetesan air mata ini. begitu hangat engkau hadir saat temaniku. saat saat aku sakit, saat aku tak tidoer di rumah. dan cukup sudah kau menanti diriku.