Aku Berkaca, 53 Jam demi 5 Menit Bicara
Malam ini aku berdiri di depan mirror, melihat lebih dalam dan ke dalam. Setitik noda merah menempel pada dinding kaca yang selalu memantulkan cahaya datang. Gumam dalam batinku, “Siapa suruh lho hisap darahku ?”. Haa…ha.. perut buncitmu bikin dirimu tak sebebas diriku.
Terlihat jelas namun samar, aku tercengang pada sesosok bayangan yang tampak di kaca itu. Itukah aku ? Pria paruh bawa, berabut hitam, wajah berseri seakan penuh dengan kharisma. Hemmm .. aku kenal dia ?? Dialah pria yang berdiri waktu itu. Yang membuat ratusan blogger terfokus padanya, tertawa lepas kami dibuatnya. Acara lauching bengawan.org (komunitas blogger Soloraya) di Loji Gandrung, 21 Februari di tahun ini.
Salah satu dari 10 TOP 2008 people versi majalah TEMPO, walikota Solo, Joko Widodo (Jokowi), orang no 1 di “kota berseri” ternyata butuh waktu 53 Jam* ( 1 pertemuan makan siang, saya anggap 1 jam) untuk mengatakan “relokasi” kata yang menakutkan bagi pedagang kaki lima (PKL), Stigma atau identik dengan kekerasan, tangisan, bahkan hilangnya mata pencaharian.
***
Proses komunikasi efisien dibentuk ketika pesan tersampaikan pada pihak komunikan dari komunikator serta timbul feedback sesuai dengan tujuan tanpa adanya gangguan/hambatan (noise dalam proses komunikasi) yang berarti. Efektif jika proses komunikasi tersebut dilakukan dengan cara yang tepat dan benar.

Jokowi saat louching Bengawan.org
Menilik keberhasilan Jokowi dalam memindahkan PKL dari Monumen Banjarsari ke pasar Klitikan Notoharjo Semanggi.
Dapat dikatakan bahwa komunikasi verbal memang berlangsung singkat (mungkin tak kurang 5 menit jika to the point), perjamuan makan siang yang ke-54 baru dikatakan bahwa PKL akan dipindahkan ke Pasar Klithikan Semanggi. Namun proses sebelum hari ke 54 itulah yang perlu dikaji, sebelum informasi pemindahan itu sampai kepada para pedagang yang sudah berjualan beberapa hingga belasan tahun. 53 kali para PKL diajak makan siang di rumah dinas Walikota. Tidak ada percakapan berarti dalam makan siang terserbut apalagi pembicaraan mengarah pada relokasi. Intinya “Setelah makan pulang (Smp)”.
Jamuan makan siang ke 54, pesan (informasi) bahwa PKL akan direlokasi, dan hasilnya feedback yang diharapkan pun muncul sesuai dengan tujuan. 989 PKL dipindahkan ke pasar Klithikan Notoharjo Semanggi.
Its Why ? Setelah lama aku berkaca, akhirnya ku temukan sedikit jawaban. Sebuah konsep komunikasi yang efisien dibentuk. Manajemen komunikasi yang terencana, terlaksana dan terkontrol dengan baik.
- Pola komunikasi face to face, terjalin antara Jokowi dan PKL, secara intense 54 kali, Jokowi secara langsung mengundang para PKL, menghampiri untuk makan siang. Menghadirkan “dirinya” dalam proses komunikasi tersebut. Efek yang timbul mampu menghilangkan kesenjangan antara Walikota dan PKL. Antara komunikan dan komunikator.
- Dia ada dalam komunitas PKL, mencoba masuk dalam dunia para pedagang. Duduk bersama, mempelajari pola dan karakteristik ratusan pedagang. Pemetaan terhadapan masyarakat yang akan menerima pesan tersebut.
- Menggunakan cara “makan”, sebuah cara unik dalam strategi market relokasi PKL. Sebuah celah yang dapat ditangkap oleh Jokowi. Padangan orang umum pun akan tahu (terutama orang Jawa – like me) tiada kata lain terucap selain matur suwun setelah dapat makanan gratis atau traktiran. Salah satu cara (trik) Jokowi untuk menguasi audience (PKL).
- Memberikan solusi bukan permasalahan baru. Problem Pemkot Solo adalah tata kota yang semrawut, salah satu cara adalah relokasi para PKL (bukan strerilisasi PKL). Apa yang diinginkan PKL jika kena relokasi ? Dia paham karena telah menyatu dengan PKL, mampu menempatkan diri sebagai PKL. Relokasi ke tempat yang mempunyai nilai ekonomis yang sama bahkan lebih. Solusi adalah pasar Klithikan Semanggi, dengan luas tanah serta bangunan ruko yang tertata rapi. ++ Gratis
- Paham akan masalah relokasi, konsep relokasi, manfaat dan tujuan relokasi, keuntungan yang akan di dapat dari ke 2 belah pihak artinya antara Pemkot Solo dam PKL.
Untuk 1 menit bicara tak berarti pasti nilainya 60 detik bahkan sangat lebih dari itu.
Artikel ini ditulis juga untuk kontes Kontes Berpikir Kritis 2009 Navinot.com
Related posts:


Tatap muka, temu kangen, sambung rasa, silaturahmi bisa mencairkan suasana dan pemecahan masalah jadi lebih enak dan santai … hebat bener ini …
[Reply]
semangat om…..!!!!
[Reply]
@arif he.. he. bener sekali pakde … akrab dan keluarga
@jun makasih broo .. ayo maju terus
[Reply]
[...] Berbicara Efektif , hemm pagi ini cukup membuat senang satu keyword nyasar ke blog baru raiderhost [dot] info. he.. he.. cukup mengejutkan karena setelah 1 bulan mengudara baru pertama kali traffick hadir dari search enginge versi pantuan statpress. [...]
bener omonganmu kisanak
jokowi nyat orang joss gandoss tenan soal
pendekatannya dengan PKL kemaren
aku juga takjub mendengar cerita beliau kala itu
[Reply]